Menelusuri Roso Keris Nusantara di Besalen Mageti, Paras Sujiwo Temui Empu Aji Guno Anom

Table of Contents

 

Suasana hangat dan santai namun serius saat Empu Aji Guno Anom Mageti V disambangi Paras Sujiwo (Foto: Jabarnesia)

MAGETAN — Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, sebuah besalen tradisional di lereng timur Gunung Lawu masih mempertahankan ritme lama: sunyi, teliti, dan penuh laku batin.

Di tempat itulah Paras Sujiwo, sosok teknokrat budaya sekaligus kolektor keris asal Klaten, melakukan kunjungan budaya ke kediaman Empu Aji Guno Anom Mageti V di Desa Kedungpanji Magetan, Jawa Timur, pada Sabtu 9 Mei 2026.

Pertemuan berlangsung di dalam besalen, rumah tempa tradisional tempat proses pembuatan keris dilakukan secara turun-temurun. Bara api, denting logam, doa, dan konsentrasi rasa masih menjadi bagian penting dalam setiap tahapan penciptaan pusaka.

Bagi Empu Aji Guno Anom, keris bukan sekadar benda antik atau senjata tradisional. Ia memandang keris sebagai simbol perjalanan batin manusia Nusantara. Empu yang memiliki nama asli Muhammad Teguh Budi Santoso itu menjelaskan bahwa keris memiliki dua dimensi utama, yakni dimensi lahiriah dan batiniah.

Dimensi lahiriah mencakup bentuk, pamor, estetika, serta simbol visual. Sementara dimensi batiniah berkaitan dengan energi, filosofi, doa, dan karakter spiritual yang menyertai proses pembuatannya. Menurutnya, banyak orang hanya berhenti pada kekaguman visual terhadap keris, padahal inti pusaka justru berada pada “roso” yang terkandung di dalamnya.

“Ada perbedaan secara energi, karena keris itu sendiri harusnya bertuah atau memiliki kekuatan energi di situ,” ujar Empu Teguh.

Dalam tradisi perkerisan Jawa, seorang empu tidak hanya dituntut memiliki keterampilan menempa logam. Ia juga menjalani laku spiritual.

Proses pembuatan keris dilakukan dengan roso cipto, ketekunan batin, dan pinuwunan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, sebilah keris dipandang bukan sebagai hasil kerja mekanis semata, melainkan perpaduan keterampilan tangan, kekuatan rasa, dan doa.

“Bentuk ini lambang dhohiriyah dari doa. Seharusnya pusaka yang dibuat pasti terdapat energi doa,” jelasnya.

Empu Teguh menuturkan, kualitas sebuah keris tidak hanya ditentukan material atau keindahan bentuknya, tetapi juga “isi” yang dipercaya lahir dari niat dan karakter pembuatnya.

Menurutnya, ada keris yang tampak sederhana namun memiliki energi besar. Sebaliknya, ada pula keris yang terlihat indah secara visual tetapi kosong secara spiritual.

Bahkan dalam beberapa kasus, keris yang dibuat khusus dapat mencerminkan watak pemesannya.

Pemahaman itulah yang membuat dunia keris berada di persimpangan antara seni, simbol, spiritualitas, psikologi, dan kebudayaan.

Empu Aji Guno Anom sendiri berasal dari garis panjang trah empu Mageti. Ia merupakan putra dari Paku Rodji, empu legendaris Magetan yang dikenal luas di kalangan pecinta tosan aji.

Paku Rodji disebut sebagai keturunan ke-16 Mpu Supodriyo melalui jalur Dewi Rasa Wulan, adik Sunan Kalijaga. Trah tersebut dipercaya menjaga tradisi empu sejak masa akhir Majapahit.

Dalam sejarah perkerisan Mageti, salah satu karya paling dikenal adalah keris Kiai Bondoyudo, pusaka milik Pangeran Diponegoro yang dibuat oleh Mpu Guno Sasmito Utomo atau Ki Ageng Mageti pada era Mageti I.

Keris itu dikenal sebagai salah satu pusaka ageman utama yang dibawa Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa melawan Belanda.

Kini, amanah sebagai penerus tradisi berada di tangan Teguh Budi Santoso yang dikenal sebagai Mpu Mageti V. Amanah tersebut diterimanya setelah sang ayah wafat dan meninggalkan sejumlah pesanan keris yang belum selesai dikerjakan.

“Pesan bapak, Mpu itu adalah tugas di dunia. Maka jalanilah,” kenangnya.

Meski dunia keris kerap dikaitkan dengan hal-hal mistik, Empu Teguh menegaskan pentingnya menempatkan pusaka secara proporsional dan tidak berlebihan.

“Jangan menuhankan pusaka atau lebih spesifiknya keris. Karena dalam Islam, itu syirik. Keris hanya sebuah alat saja untuk lebih mengenal dan lebih dekat dengan yang menciptakan alam semesta ini,” tegasnya.

Menurutnya, keris bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga pengingat identitas budaya bangsa.

Pandangan tersebut sejalan dengan pengakuan UNESCO yang menetapkan keris sebagai warisan budaya dunia nonbendawi pada 2005.

Namun, ia menilai tradisi hanya akan tetap hidup apabila terus dipelajari, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

(Red)

Post a Comment