Gen Z dan AI: Dari Kekhawatiran Digantikan Menjadi Upaya Tetap Relevan di Dunia Kerja

Table of Contents

JABARNESIA Perbincangan mengenai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan Generasi Z Indonesia mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya kekhawatiran utama berkisar pada potensi AI menggantikan pekerjaan manusia, kini fokusnya mulai bergeser pada bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut agar tetap relevan di dunia kerja.

Perubahan ini terlihat seiring meningkatnya penggunaan AI di kalangan anak muda Indonesia dalam berbagai aktivitas sehari hari, mulai dari belajar, mencari informasi, hingga membantu pekerjaan.

Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 yang disusun IDN Research Institute mencatat sekitar 58 persen Generasi Z Indonesia telah menggunakan AI secara aktif dalam aktivitas mereka.

AI kini tidak lagi dipandang sekadar teknologi baru, melainkan mulai menjadi bagian dari ekosistem kerja dan produktivitas. Pemanfaatannya meluas ke berbagai bidang, seperti penulisan, desain, riset, analisis data, pembuatan konten, hingga otomasi pekerjaan administratif.

Di sisi lain, survei perusahaan konsultasi global PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia menunjukkan penggunaan Generative Artificial Intelligence (GenAI) juga berdampak terhadap produktivitas kerja.

Dalam survei PwC Indonesia Hopes and Fears Survey 2026, sebanyak 96 persen pengguna GenAI harian di Indonesia mengaku mengalami peningkatan produktivitas dibandingkan pengguna yang lebih jarang memanfaatkan teknologi tersebut.

Bagi Generasi Z yang tumbuh sebagai digital native, perkembangan ini membuat hubungan dengan teknologi menjadi semakin dekat. Namun adaptasi terhadap AI tidak sepenuhnya berjalan tanpa kekhawatiran.

Penelitian Universitas Katolik Parahyangan pada 2025 menunjukkan Generasi Z memiliki pandangan yang cukup kompleks terhadap AI. Mereka dinilai adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi tetap menyimpan kecemasan mengenai kemungkinan perubahan besar di pasar kerja akibat otomatisasi.

Meski demikian, mayoritas responden tetap menunjukkan kecenderungan untuk terus menggunakan AI dalam aktivitas kerja maupun pembelajaran.

Perkembangan tersebut juga memengaruhi kebutuhan keterampilan kerja. Kemampuan teknis tidak lagi dipandang cukup. Sejumlah kompetensi seperti berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kemampuan beradaptasi, hingga literasi AI mulai menjadi kemampuan yang semakin dibutuhkan.

Di tengah percepatan transformasi digital, tantangan Generasi Z tampaknya bukan lagi semata soal menghadapi AI, melainkan bagaimana mampu bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.

Sebab di dunia kerja yang terus berubah, kemampuan beradaptasi diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama untuk bertahan.

Post a Comment