Secara historis, gagasan menanam kabel komunikasi sudah dimulai sejak abad ke-19, ketika teknologi telegraf berkembang pesat. Kebutuhan akan jaringan yang lebih terlindungi mendorong pemasangan kabel di bawah tanah, termasuk proyek besar seperti kabel telegraf lintas Atlantik pada 1858. Memasuki abad ke-20, jaringan telepon berbasis tembaga semakin meluas di kota-kota besar, meskipun kapasitasnya terbatas.
Perubahan besar terjadi pada akhir abad ke-20 dengan hadirnya serat optik. Teknologi ini memungkinkan transmisi data berkecepatan tinggi dengan gangguan minimal, menjadikan jaringan bawah tanah sebagai infrastruktur utama dalam era digital. Saat ini, perkembangan berlanjut ke sistem yang lebih canggih seperti smart ducting, yang dilengkapi sensor untuk memantau kondisi jaringan secara real-time dan terintegrasi dengan sistem manajemen kota.
Dalam konteks smart city, jaringan bawah tanah berfungsi sebagai fondasi bagi berbagai layanan digital. Sensor lalu lintas, kamera pengawas, sistem transportasi cerdas, hingga Internet of Things (IoT) membutuhkan konektivitas yang stabil dan berkapasitas besar. Kota seperti Tokyo dan Singapore telah menunjukkan bagaimana integrasi ini mampu menciptakan sistem perkotaan yang efisien, responsif, dan minim gangguan.
 |
| CST (Common Services Tunnel), yang ukurannya sebesar dua terowongan MRT, menampung kabel telekomunikasi, saluran listrik, serta pipa air dan pipa pengangkut sampah pneumatik (Marina Bay Urban Redevelopment Authority Singapore) |
Di Indonesia, Jakarta mulai bergerak ke arah tersebut dengan program penataan kabel melalui pembangunan ducting bawah tanah di sejumlah ruas strategis. Upaya ini tidak hanya memperbaiki estetika kota, tetapi juga memperkuat fondasi infrastruktur digital. Meski demikian, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa biaya tinggi, kompleksitas ruang bawah tanah, serta kebutuhan koordinasi lintas sektor.
Dari sisi teknis dan operasional, sistem jaringan bawah tanah memiliki sejumlah kelebihan. Perlindungan terhadap gangguan cuaca dan risiko eksternal membuat jaringan lebih stabil. Selain itu, penghilangan kabel udara meningkatkan kualitas visual kota. Dalam jangka panjang, tingkat gangguan yang lebih rendah juga dapat menekan biaya pemeliharaan.
Namun, sistem ini juga memiliki keterbatasan. Biaya pembangunan awal relatif besar karena melibatkan pekerjaan sipil yang kompleks. Ketika terjadi gangguan, proses perbaikan membutuhkan waktu lebih lama karena harus melalui tahapan identifikasi dan penggalian. Selain itu, keterbatasan ruang bawah tanah di kawasan padat menuntut perencanaan yang presisi agar tidak terjadi konflik dengan utilitas lain seperti pipa air, gas, dan listrik.
 |
| Konsep infrastruktur bawah tanah Kota Singapura (Urban Redevelopment Authority Singapore) |
Potensi pengembangan sistem ini terlihat jelas di kota penyangga utama Metropolitan Jakarta seperti Kota Bekasi. Dengan pertumbuhan urban yang cepat dan kedekatannya dengan Jakarta, kebutuhan akan infrastruktur komunikasi yang lebih tertata menjadi semakin mendesak. Selama ini, persoalan kabel udara yang semrawut tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan dan gangguan layanan.
Pemerintah Kota Bekasi di bawah kepemimpinan Tri Adhianto telah mulai mengambil langkah konkret. Salah satunya melalui kerja sama dengan pihak pengembang untuk pembangunan sistem ducting bawah tanah yang direncanakan segera dilaksanakan. Skema kolaborasi ini menjadi penting untuk mengatasi kendala pembiayaan sekaligus memastikan pembangunan berjalan lebih cepat dan terintegrasi.
Jika direalisasikan secara konsisten, langkah ini dapat menjadi fondasi awal bagi pengembangan smart city di Kota Bekasi. Integrasi jaringan bawah tanah dengan sistem digital akan membuka peluang peningkatan layanan publik, efisiensi transportasi, serta penguatan ekosistem ekonomi berbasis teknologi.
Dengan demikian, jaringan komunikasi bawah tanah tidak lagi sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan kota. Kota yang mampu mengelola sistem ini secara efektif akan memiliki keunggulan dalam stabilitas layanan, efisiensi operasional, dan kualitas lingkungan perkotaan di tengah tuntutan era digital yang terus berkembang.
Post a Comment