Menyelami Filosofi Keris dalam Buku Festival Keris Nusantara 2025
![]() |
| Cover Buku Festival Keris Nusantara 2025 |
Keris merupakan salah satu warisan budaya penting Nusantara yang tidak hanya dipahami sebagai senjata tradisional, tetapi juga sebagai simbol identitas, nilai sosial, serta perjalanan spiritual masyarakat. Makna tersebut tercermin dalam buku Festival Keris Nusantara 2025, sebuah karya dokumentatif yang disusun sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya perkerisan.
Selain menjadi dokumentasi kegiatan festival, buku ini juga berfungsi sebagai katalog pameran keris yang disajikan kepada publik.
Isi buku menghadirkan pembahasan yang cukup luas mengenai keris, mulai dari sejarah, filosofi, hingga fungsi sosial dan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Misalnya menjelaskan berbagai aspek simbolik yang terkandung dalam bentuk keris.
Bilah keris yang lurus maupun yang berlekuk memiliki makna filosofis tersendiri. Bentuk lurus sering dimaknai sebagai simbol keteguhan dan jalan hidup yang tegak. Sementara bilah yang berlekuk atau memiliki luk menggambarkan dinamika perjalanan kehidupan manusia yang tidak selalu berjalan lurus.
![]() |
| Keris Luk 13 (Koleksi Bapak Paras Sudjiwo) |
Selain itu, keris juga dijelaskan sebagai bagian dari struktur sosial dan budaya masyarakat Nusantara pada masa lalu. Dalam berbagai tradisi, keris berfungsi sebagai simbol kehormatan, identitas sosial, serta bagian dari kelengkapan busana adat. Dengan demikian, keberadaan keris tidak hanya berkaitan dengan fungsi senjata, tetapi juga dengan nilai simbolik yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu bagian utama buku ini adalah dokumentasi terhadap 68 koleksi keris yang dipamerkan dalam festival. Setiap bilah keris dibahas dengan uraian mengenai bentuk, pamor, serta karakteristiknya, sehingga memberikan gambaran mengenai keragaman tradisi perkerisan yang berkembang di berbagai daerah.
![]() |
| Keris Tombak Leres (Koleksi Bapak Adi Kumboro) |
![]() |
| Keris Badik (Koleksi Eris Yoe DN) |
Penyusunan buku ini melibatkan sejumlah tokoh yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya keris. Warsito Supadmo dan Eris Yunianto bertindak sebagai penasihat. Tim kurator terdiri dari Warsito Supadmo, Benny Hatmantoro, Ady Sulistyono, Agus Sriwibowo, Heksa F. Pria, dan Sentot Hernowo. Penyuntingan dilakukan oleh Daryono, sementara penulisan naskah disusun oleh Wisnu Kisawa. Dokumentasi visual, tata letak, dan desain grafis dikerjakan oleh Sentot Hernowo bersama Didik Tri.
![]() |
| Keris Tombak (Koleksi Bapak Doni Poerbowo Widjaya) |
Dalam sambutannya, Ketua Masyarakat Pusaka Nusantara, Daryono, menegaskan bahwa keris merupakan warisan leluhur Indonesia yang telah memperoleh pengakuan dunia. Pada tahun 2005, UNESCO menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Dunia. Pengakuan ini menegaskan bahwa keris bukan sekadar benda pusaka, melainkan karya budaya yang memiliki nilai estetika tinggi serta mengandung simbol identitas, kekuatan, dan dimensi spiritual.
Melalui dokumentasi koleksi keris dan uraian mengenai makna filosofis yang menyertainya, buku Festival Keris Nusantara 2025 tidak hanya merekam sebuah peristiwa budaya. Buku ini juga menghadirkan pemahaman yang lebih luas mengenai keris sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara serta sebagai warisan budaya yang tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.





Post a Comment